Postingan

Bedogan .. An .. An

Gambar
Dua hari sebelum Ramadhan, aku bersama seorang teman, juga adikku Deby Gunawan pergi ke Sanga Desa untuk bedogan . Pergi begitu saja jam sepuluhan dengan sedikit persiapan. Cuaca sangat cerah dan kami kepanasan, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Kami berlama di jalan, dan Reno meng-sms apakah telah menyimpang ke Lumpatan. Saya tertawa terbahak sambil menenteng kantong kresek berisi penganan.

Taubat

Gambar
Tak ingatkah Kau? Kau sia-siakan tiga perempat hidupmu dengan keburukan. Dan kini, Kau masih saja membatu, hatimu masih mengeras dalam masa tuamu. Jiwamu bagaikan batu karang yang tak mengindahkan hukum alam. Lihatlah dirimu, Tua! Bersyukurlah Aku masih diperintahkan oleh-Nya untuk mengingatkanmu tentang pertaubatan terakhir. Kau masih beruntung masih diberi jalan bernafas, memilih untuk meraih kebaikan setelah mati atau keburukan yang akan merenggut ruhmu.

Nelangsa Pusara 2

“Oh. Fendri. Ayah masih ingat. Waktu itu kau selalu ambisius untuk pergi ke negeri penuh teknologi itu. Setiap kali kau pulang, kau selalu menceritakan kehebatan Asia Timur Nak.” “Iya Yah. Sekarang aku akan bisa ke sana Yah. Ke Asia timur Yah.” “Wahh. Itu bagus Nak. Memang Ayah percaya bahwa kau akan bisa ke sana. Kau anak yang pintar.” Ayah antusias mendengar ceritaku. Namun terlepas dari  keceriaan Ayah, aku bingung mau memulai inti ceritaku. Aku tak ingin berbasa-basi lagi. Jam sepuluh tepat mobil terakhir menuju kota akan berangkat. Aku menghela nafas panjang.

Nelangsa Pusara

Gambar
                                                                                    Short story that can easily be  guessed Minggu sore, pukul setengah enam. Pekuburan pinggir kota lengang. Penjual bunga tujuh rupa dan anak-anak pembersih makam telah beranjak pulang. Gerbang pekuburan masih terbuka. Terlihat tukang gali kubur duduk di posnya. Suasana pekuburan itu terasa sejuk. Semilir angin berhembus diantara pohon-pohon makam. Rindang. Gemerisik dedaunan kering beterbangan tak karuan disapu angin. Beberapa daun menerpa batu nisan, terbang lagi, menyentuh tanah lagi. Bebungaan segar dan layu yang tercecer di jalan setapak berpindah tempat ke rerumputan.

Air Adalah Hidup Sederhana

Gambar
Seringkali hati ini iri melihat teman-teman yang ber- gadget . Dengan layar-layar besar juga bisa disentuh. Bagus sekali. Ingin juga memiliki benda-benda canggih seperti itu. Seringkali aku membandingkannya dengan handphone yang aku pegang. Handphone lamaku. Beruntung hati ini selalu berbesar jika godaan datang untuk memiliki benda-benda canggih itu. Uang masih minta dengan orangtua, tak pantas meminta yang berlebihan. Juga, mungkin berjuta-juta orang diluar sana bahkan tidak bisa makan karena kekurangan harta untuk membeli pengisi perut. Aku yang mempunyai handphone lama ini jauh lebih beruntung dibanding mereka. Walau berlayar kecil dan tak bisa disentuh, Alhamdulillah, masih diberi gadget jadul ini.

My Queen, Later?

Gambar
Kemarin, Minggu Juni 23, bersama beberapa teman seangkatan di SMA dan tiga senior berkunjung ke Boyolali untuk menghadiri acara walimah al ursy salah satu guru SMA. Beliau wali kelasku ketika di Oasis. Datang kepagian, tapi beruntung, karena hal itu, kami dapat duduk dijarak yang berdekatan dengan singgasana ratu dan raja sehari. Bisa menikmati jalannya acara dengan khidmat sekaligus mantengin wajah raja dan ratunya. Untung-untung bisa menjadikan pelajaran disuatu waktu kelak.

Se-Maradona di Tengah Hujan

Gambar
Ashar ini, Yogyakarta dideru hujan lebat. Suara jejatuhan air hujan menghiasi sore ini. Sangat lebat. Gemuruh genteng berbunyi-bunyi dijatuhi ribuan titik-titik air hujan. Dan akhirnya, salam. Belum lima detik salam berlalu, anak-anak sekitaran masjid telah menghambur keluar, langsung terjun dari lantai masjid, bergumul dengan teman-teman sebaya mereka, menikmati berkah hujan dengan kesenang-senangan. Singkat kata, main hujan. Gelak tawa mereka terdengar bersamaan dengan air hujan yang semakin menderas.